Thursday, September 29, 2016

Menyikapi Pilkada DKI Dari Malaysia

Menyikapi Pilkada DKI Dari Malaysia

Pengetahuan saya tentang politik Indonesia hanya sekadar setelah menulis tesis S2 tentang hak asasi manusia di Indonesia dan Disertasi S3 tentang good governance dan KPK di Universitas negeri tertua Malaysia bernama Universiti Malaya.
Ketiga pasangan calon Gubernur DKI saudara bukan, tetangga juga bukan bagi saya. Namun banyak orang cerdas intelektual cendekiawan seperti Mahfud MD yang menilai bahwa Anis lebih baik. Saya juga tidak pernah masuk dan terdaftar dalam partai politik mana pun selama ini. Tujuan saya hanya ingin melihat Jakarta dan Indonesia menjadi lebih baik menurut konsep ilmu yang saya pelajari. Antara lain adalah tafsiran Quran Surah al-Hujurat ayat 9-10 sebagaimana yang disampaikan dalam kelas tafsir Maudhuiy di rumah Prof. Dr. Siddiq Fadzil secara berkala. Langkah pertama yang perlu diambil dalam kasus perebutan kuasa antara sesama muslim adalah dengan mendamaikan keduanya dan ini telah dilakukan oleh team ulama Risalah Istiqlal. Langkah kedua adalah dengan “memerangi” pihak yang ingkar. Ini bertujuan agar umat tidak lemah yang akan memberi peluang kemenangan pihak lawan karena pecah dan terbagi duanya suara umat dan suara yang pro kemajuan. Tulisan ini juga bukan analisa politik hanya sekadar dakwah bagi mereka yang ingin mendengarkannya.

Anis Rasyid Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno dan Kepemimpinan Cerdas, Intelektual, Cendekiawan, Jujur, Amanah, Bersih dari Korupsi

Kalau kita jujur sebenarnya Habibi adalah Presiden terbaik Indonesia. Hasil petani seperti karet, padi, kelapa, cengkeh dll yang mahal. Dolar yang turun ke angka Rp. 6500 dan berbagai prestasi lain yang tidak pernah dicapai oleh Presiden setelahnya.
Ini karena Habibi adalah seorang Presiden intelektual, cendekiawan sebagaimana yang disarankan oleh teori politik dalam falsafah Yunani kuno dan juga seperti yang didukung oleh politik Islam agar sesuatu diserahkan kepada yang ahli di bidangnya atau kehancuran akan menimpa jika sesuatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahli dibidangnya.
Habibi adalah seorang yang memiliki kualitas international yang telah mengunjungi banyak negara di dunia yang dengan sendirinya pengalaman adalah guru yang paling bijaksana baginya untuk menerapkan hal-hal yang positif negara lain di Indonesia. Namun kuasa besar dunia tidak ingin melihat Indonesia jadi besar seperti Jepang, Korea atau setidaknya dapat bersaing dengan negara tetangga seperti Brunei, Malaysia, Singapura, Thailand dan sebagainya. Kepemimpinan Habibi dijatuhkan melalui tangan anak bangsa sendiri yang tidak bisa membaca agenda dan strategi musuh negara yang datangnya dari luar.
Apa yang dimiliki Habibi sebenarnya terdapat pada diri Anis Baswedan seorang yang memiliki pendidikan S3 dan pengalaman yang luas bukan hanya sekadar teori saja. Dapat dikatakan Anis adalah seorang yang cerdas bersih dari korupsi, jujur, amanah, adil, sesuai dengan konsep kepemimpinan Nabi SAW yang memiliki sifat siddiq, tabliq, amanah dan fathonah. Mengenai fitnah dia seorang Syi`ah dan JIL telah dibantah oleh para ulama yang berkompeten dibidangnya. Berbagai-bagai gosip, fitnah, naba` selalu bertebaran di media sosial yang harus diklarifikasi kebenarannya oleh ahli, bukan oleh artis atau oleh pasar di dunia maya.
Pasangannya pula seorang pengusaha sukses ibaratkan Khadijah dalam perjuangan Nabi Muhammad SAW. Sandiaga Salahuddin Uno adalah seorang yang pernah di PHK, lalu mendirikan sebuah perusahaan yang memiliki 3 orang karyawan dan akhirnya menjadi besar memiliki 30.000 karyawan dalam waktu yang singkat. Sebuah prestasi yang luar biasa bahkan bisa mengalahkan dominasi pengusaha bangsa asing di Indonesia.
Insha Allah tahun ini saya akan resmi jadi Doktor bidang politik Islam dan jika diminta saya akan siap menjadi penasihat politik pasangan Gubernur DKI Anis-Sandiaga secara gratis tanpa dibayar. Nasihat saya singkat saja seperti Anis fokus mengurus pemerintahan dengan menerapkan konsep negara maju yang dia telah kunjungi di Jakarta sementara Sandiaga Salahuddin Uno hanya membimbing ratusan calon pengusaha baru bumi putera agar dalam waktu singkat dapat mengambil alih dominasi ekonomi yang dikuasai oleh bangsa asing di Jakarta bahkan Indonesia selama ini.

Agus-Silvia dan Politik Balas Dendam serta Mitos
Kepemimpinan Tentara Lebih Aman..

Perang adalah simbol diplomasi negara kuno, makanya tentara seperti Cheng Ho, Hang Tuah, Napoleon, Gajah Mada lebih dikenal dari raja. Sementara diplomasi negara modern menggunakan otak bukan otot yang membuat sipil cerdas ditugaskan memimpin negara.
Hancurnya berbagai kerajaan di Nusantara adalah karena berlakunya pertikaian internal keluarga dan petinggi dalam kerajaan yang membuat satu pihak meminta bantuan asing Belanda untuk menjatuhkan pihak yang lain yang juga saudaranya.
Orde lama dijatuhkan oleh orde baru yang menciptakan dendam yang panjang antara Golkar dan PDIP. Dendam disambung oleh mega-jokowi terhadap sby dan pencalonan agus nampaknya ingin melanjutkan lagi sejarah dendam ini.. Terlalu banyak energy bangsa yang dikuras oleh dendam-dendam ini, padahal secara pendidikan, SDM, infrastruktur dan sebagainya Indonesia masih kalah bersaing sama negara tetangga yang dulunya sama-sama terpuruk seperti Indonesia saat ini. Mari kita akhiri politik balas dendam di negara ini dengan tidak mendukung mereka lagi.
Soekarno dan Soeharto sudah meninggal, dendam keduanya dilanjutkan oleh mega dan sby. Tak lama lagi keduanya akan meninggal, dendam keduanya dilanjutkan oleh agus dengan jokowi atau puan, gibran dan seterusnya sampai kiamat jika kita mendukung rejim dinasti partai keluarga dalam pemilu atau pilkada di negara ini.

Mitos Kepemimpinan tentara lebih aman..
Siapa sebenarnya yang menciptakan keamanan dan kekacauan? Lihat beberapa negara yang dipimpin oleh tentara yang kacau balau haru biru dan kalah bersaing secara ekonomi, sosial, pembangunan seperti Myanmar, Mesir, Korea Utara dan sebagainya. Lihat pula semua negara maju yang dipimpin oleh sipil dan bahkan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Brunei juga sangat aman damai di bawah kepemimpinan sipil.
Seorang Profesor alumni Australia yang mendengar anaknya bercita-cita menjadi tentara langsung menjawab, “tentara hanya dihargai di negara mundur nak..” jabatan tentara bukanlah prestasi. Kerjanya siap grak, marathon, maju jalan dan terima gaji setiap bulan.
TNI yang ada saat ini tidak satu pun yang pernah berperang melawan penjajah. Kemerdekaan Indonesia di asaskan oleh para pejuang Islam seperti Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro dll yang akhirnya dilanjutkan oleh para ulama dan santrinya. Para santri ini tergabung dalam TR tentara rakyat yang di awal kemerdekaan mereka di angkat menjadi TNI. Generasi TNI ini sudah meninggal semua dan anggota TNI yang hidup saat ini tidak seorang pun yang pernah berperang melawan penjajah dalam memerdekakan Indonesia sebelum dan sesudah dan sesudah tahun 1945.
Lagian calon yang satu ini adalah sipil yang sudah keluar dari tentara dan anehnya dia masih menggunakan embel-embel TNI untuk kampanye. Kalau di Malaysia sipil yang menggunakan embel embel tentara adalah melanggar undang-undang dan bisa dipenjara begitu juga di Indonesia kalau tidak salah.

Ahok-Jarot dan Cubaan asing menguasai negara

Zaman perjuangan kemerdekaan tidak seorang pun bangsa asing yang bangkit berperang melawan penjajah. Yang berkorban harta, tenaga, darah, pikiran dan nyawa itu adalah peribumi anak negeri ketika itu. Di zaman Soeharto, cina sebenarnya tidak bisa berkutik walaupun menguasai ekonomi negara tapi tidak secara politik. Pada zaman gusdur, cina dikasi hati minta jantung dengan adanya cuti weisak, perayaan barongsai dan sebagainya. Dan di waktu sby istilah cina dirobah menjadi Tionghoa walaupun dalam konsep ilmu seperti kamus, google scholars, buku, Wikipedia dan sebagainya mereka masih tetap cina.
Cina telah menguasai Singapore, Pulau Pinang dan sedang akan menguasai Vietnam, dan mencoba menguasai Jakarta, Batam dan sebagainya. Mereka menganggap diri mereka “darah biru” yang “dimanjakan” belanda dan orde baru. Padahal menurut Prof. Dr. UI, cina yang datang ke tanah Melayu dulu adalah terdiri dari kaum rendah yang membawa baju buksen, celana pendek dan sebuah tikar tempat tidur dulunya. Perlawanan pada cina yang besar dalam sejarah adalah ketika reformasi 1998 dan pada 13 Mei 1969 di Malaysia. Ini karena mereka umpama seperti Yahudi di Inggeris yang dibenci karena melakukan bisnes kroni dan monopoli yang menzalimi hak-hak bangsa dan manusia lain.


Sesuatu yang Ditakutkan, Jakarta adalah kota metropolitan yang juga memiliki berbagai-bagai jenis manusia. Jika suara pendukung Islam pecah dan suara musuh Islam bersatu, maka sejarah pilkada di Kalimantan, gerhana Pilihan raya di Serawak dan politik di Syiria bisa menjelma di Jakarta. Non muslim yang minoritas menang karena suara mereka bersatu dan suara orang Islam dan pro kemajuan terbagi dua kalah dan negara dikuasai oleh musuh Islam yang jumlahnya hanya sedikit karena orang Islam tidak peduli terhadap politik kekuasaan negara.