Tuesday, July 18, 2017

Rejim Cigak & Rejim Beruk

Hampir setiap pemimpin negara ini dikeluhkan kualitas sumber daya manusianya yang lemah. (Kecuali Prof. Dr BJ Habibi) Ada yang pensiunan tentara, artis, orang tua bangka yang menurut sumber WHO kesehatan dunia tidak produktif lagi. Ada yang tampil di forum international dengan sangat memalukan. Membaca teks bahasa Inggeris tetapi salah dan sangat memalukan. Ada yang menggunakan penterjemah. Ada yang menggunakan bahasa lokal dalam forum International. Ada lagi yang tidak faham isu ekonomi, sosial, budaya, politik lokal dan dunia dan banyak kelemahan lain yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang Presiden yang seharusnya merupakan orang yang terbaik di antara ratusan juta rakyat Indonesia.
Namun yang sangat mengherankan solusi yang sering disodorkan adalah bagaikan cigak dengan beruk. Solusi yang diajukan adalah menjadi masalah baru. Bagaikan ingin cepat-cepat keluar dari sarang harimau tetapi menuju ke lobang buaya. Calon presiden yang diajukan umpamanya adalah seorang mantan jeneral yang tua bangka yang kalau menurut sumber kesehatan dunia WHO tidak produktif, inovatif dan kreatif lagi.
Padahal ada ribuan cerdik pandai, intelektual, cendekiawan yang go International teruji dan diakui oleh dunia International akan kualitas dan kemampuannya.
Dipihak lain, energy negara ini melemah karena menjadi bahagian dari aksi balas dendam antara rejim orde lama Soekarno dengan rejim orde baru Soeharto yang melahirkan dendam tujuh keturunan. Padahal jika kita keluar dari kedua rejim itu dengan memilih partai dan kelompok lain yang diakui SDM mereka alangkah baiknya.
Beriman seolah-olah hanya rejim orde lama atau rejim orde baru dan keturunannya saja yang bisa memimpin negara adalah sebuah kesyirikan disaat banyak solusi dan pilihan yang lebih baik lagi.

Jalan yang paling mudah adalah dengan memilih seorang akademisi terbaik dari ratusan perguruan tinggi yang ada di Indonesia untuk diangkat menjadi Presiden Indonesia karena mereka memiliki kecerdasan, target dan tujuan untuk kebaikan negara. Bukan hantam kromo, apa adanya, egp seperti memilih cigak dengan beruk atau keluar lubang buaya masuk sarang harimau.
Bangi 19 Juli 2017 Afriadi Sanusi Ph.D.