Thursday, June 7, 2018

Masalah Utama Negara Adalah Kualitas Presiden

Sependek pengetahuan saya, faktor utama mundurnya negara-negara umat Islam adalah karena rendahnya kualitas pimpinan atau presiden. Pemimpin yang rata-rata berasal dari tentara itu sangat korup, kolusi, nepotisme melakukan diktator dan menyalahgunakan kuasa untuk menutup kelemahan demi meneruskan status quo nya. Padahal hakikatnya pemimpin adalah orang yang dipilih dan dibayar gajinya oleh rakyat untuk menjalankan tugas dan kewajibannya dengan wewenang dan jangka waktu yang terbatas.
Banyak negara di dunia yang dulunya mundur tiba-tiba bangkit dalam berbagai sektor adalah disebabkan oleh karena mereka mendapat pemimpin yang berkualitas cerdas amanah seperti Erdogan di Turki. Dalam sejarah berbagai rejim dunia, pemimpin yang cerdas berkualitas ini akan dihalangi kemunculannya dengan banyak cara seperti pembunuhan karakter, fitnah, hasad dengki dan sebagainya sebagaimana yang dialami oleh Anwar Ibrahim di Malaysia.
Faktor kualitas dalam memilih presiden di negara kita nampaknya masih mengalami masalah besar walaupun kepala daerah saat ini sudah banyak yang berkualitas, namun ditingkat pusat masih perlu ditingkatkan. Memilih pemimpin yang tidak berkualitas hanya ibarat dokter gigi yang merawat pasien sakit jantung lalu memberinya ubat sakit gigi. Bukan sakit jantung yang sihat, tapi penyakit lain yang datang bertambah..
Presiden instan kagetan tiba-tiba jadi presiden, lalu bingung, bikin jurus mabuk, trial and error, menutupi malu dengan berbagai cara, tidak pandai bahasa Inggeris, kaku, tidak punya konsep, wawasan karena sedikitnya ilmu yang disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan serta diperparah lagi dengan budaya malas membaca karena identitas seorang pemimpin berkualitas adalah pembaca. Kecerdasan ini dapat diukur disaat seseorang berbicara secara spontan tanpa teks di khalayak ramai atau media yang dapat kita saksikan di media seperti youtube. Menghalalkan berbagai-bagai cara untuk mendapat dan mempertahankan kuasa. Sementara para Menteri cerdas dan berprestasi pula akan dikebiri dan disingkirkan supaya tidak mengalahkan populeritas sang presiden sesuai teori politik Machiavelli.
Sebenarnya tokoh dadakan ini dihasilkan akibat dari reaksi yang salah yang disebabkan oleh aksi yang salah. Hasilnya tentu saja akan selalu mengecewakan karena pemimpin seharusnya diangkat atas kapasitas kualitas peribadinya sendiri bukan karena faktor luar.
Kita suka memilih pemimpin instant tiba-tiba muncul yang tidak jelas dari mana rimbanya. Ini karena dia dicitrakan oleh media yang dikuasai kapitalis, supaya kapitalis mudah mendikte dan menjebak pemimpin yang tidak berkualitas tersebut untuk kepentingan pemilik modal. Kita suka memilih pemimpin karena faktor dia cucu pendiri ormas tertentu, karena ayahnya seorang anu.. Kita juga suka memilih pemimpin berdasarkan mitos, ramalan, tahayul dan khurafat sehingga para dukun sangat laku menjelang pemilu di media-media negara. seperti presiden ramalan notonegoro yang dipaksakan sama seperti mensembilankan wali songo yang juga dipaksakan jumlahnya menurut Hamka.
Kita lebih suka memilih seorang pemidato, pahlawan kesiangan yang tidak pernah ikut berperang melawan penjajah daripada tokoh pimpinan organisasi masyarakat yang bukan hanya sekadar berteori dalam pidatonya tetapi terlibat langsung dalam memimpin masyarakat untuk berperang melawan penjajah. Kita lebih memilih seorang tentara yang lemah SDM nya daripada tokoh intelektual cendekiawan yang masuk keluar hutan untuk terlibat langsung berperang melawan komunis. Kita lebih memilih seorang yang kurang mampu mengurus diri sendiri untuk mengurus sebuah negara daripada tokoh cerdas reformis yang turun ke jalan memimpin sendiri kebangkitan rakyat.
KPK saja yang dibidani kelahirannya oleh reformasi 1998 sulit sekali tokoh reformis yang cerdas-amanah punya idea, konsep dan wawasan dalam melawan korupsi untuk menjadi pimpinan KPK. Itulah antara kelemahan bangsa yang belum mampu membedakan mana intan mana kaca sehingga dunia luar lebih banyak mengungkap kehebatan tokoh kita dari kita sendiri yang lebih sering menyanjung tokoh fata morgana, kulit, kaca berbanding intan. Kita sudah kehilangan tongkat banyak kali disaat mengganti seorang profesor yang diakui dunia kehebatannya dengan tokoh yang kualitasnya jauh dibawahnya. Kita ganti orang hebat dengan yang tidak hebat, lalu ganti lagi dengan yang tidak hebat, tidak hebat dan seterusnya. Setelah itu semua nampaknya kita akan kehilangan tongkat lagi karena kabarnya kita hanya ada dua calon presiden disaat sangat banyak tokoh bangsa yang kualitasnya jauh di atas keduanya.
Pergantian pemimpin seharusnya janganlah bagaikan mengganti “cigak dengan beruk” atau “keluar dari mulut buaya masuk mulut harimau”, “gali lobang tutup lobang”, tetapi gantilah yang buruk menjadi baik dan seterusnya yang lebih baik kualitasnya demi kemajuan bangsa dan negara untuk kesejahteraan dan kemakmuran bersama agar orang tidak lagi menyebut kita bangsa babu di luar negara.
Saya suka membandingkan dengan Malaysia karena saya melihat langsung kebangkitan rakyat selama 15 tahun di negara ini. Ilmu yang kita dapat melalui penglihatan sendiri jauh lebih baik daripada kita membaca media yang berasal dari tulisan wartawan yang menulis atas kehendak boss yang tersandara oleh kepentingan kapitalis sebagai sumber keuangan mereka.
Walaupun Malaysia mengamalkan sistem beraja, namun tidak ada Perdana Menteri mereka yang dipilih karena faktor dia adalah keluarga diraja. Jika kita telusuri jejak Perdana Menteri Malaysia, tidak ada tokoh instant dadakan di dalamnya. Rata-rata mereka memiliki pengalaman politik dari bawah, menjadi Menteri Besar, Menjadi Menteri dan terlibat serta berpengalaman dalam pemerintahan dalam masa yang lama baru menjadi Perdana Menteri. Mereka terlibat langsung dalam memperjuangkan hak-hak rakyat, keluar masuk penjara, bukan hanya sekadar beretorika.
Mereka juga tidak menganggap negara sebagai hak milik warisan nenek moyang pemimpin mereka sehingga tidak beranggapan bahwa status quo harus dipertahankan selamanya. Tidak ada pendewaan pada pemimpin apalagi menganggapnya sebagai titisan dewa yang lahir dari muntah lembu. Bagaikan elang yang terbang tinggi dari bumi, boleh mematuk, menzalimi dan memakan haiwan lain yang berada di bawahnya.
Orang Malaysia memilih PM mereka karena pertimbangan, faktor, dasar, kualitas peribadinya seperti karena dia seorang yang cerdas-amanah, punya konsep, wawasan dan ilmu dalam membangun negara, pengalaman, dia adalah tokoh perubahan, dia adalah pejuang hak-hak rakyat, pejuang keadilan. Bukan karena dia anak, cucu raja, tuan syeikh, pendiri negara, hasil dialog dengan kubur si anu atau karena ramalan dukun si anu sebagainya.
Islam mengamalkan kepatuhan terbatas pada pemimpin karena ia hanya ditinggikan seranting dan didahulukan selangkah dengan orang yang dia pimpin. Pemimpin yang dipilih seharusnya adalah karena individunya berkualitas bukan karena faktor kualitas orang lain. Abu Bakar, Umar, Usman, Ali dipilih karena kualitas peribadinya bukan pertimbangan karena keluarga Rasulullah.
Negara yang mengamalkan sistem presidential, presiden memiliki peranan penting dalam perubahan. Untuk itu diperlukan seorang presiden yang berkualitas tinggi seperti qawiyun amin, rekam jejak yang baik, jujur, adil, berilmu, memiliki wawasan yang luas, bermoral-akhlak yang mulia, berilmu, berkarisma, wibawa, jati diri, integritas, Siddiq, amanah, cerdas dan tablig, berjiwa merdeka, intelektual, cendekiawan, muda, sipil. Sipil diperlukan karena ciri diplomasi modern adalah menggunakan akal bukan perang seperti zaman kuno.
Cukuplah semua penderitaan rakyat yang ada selama ini, mari membangun untuk kebaikan bersama. Lupakan kepentingan politik kepartaian, kesukuan, golongan menuju politik kesejahteraan bersama demi harga diri bangsa dan negara agar agama, nyawa, akal, keturunan, harta, alam sekitar kita terjaga dengan baik di bawah pemerintahan dan presiden yang baik. Untuk itu supaya Indonesia baru terwujud, faktor utama yang perlu dilakukan adalah dengan cara memilih presiden yang dirinya berkualitas cerdas-amanah bukan karena dia dicitrakan, karena dia anak cucu si anu, karena dia sesuai ramalan jayabaya, roh anu, dukun anu dan sebagainya.

Kajang, 5 Juni 2018


DRAS