Monday, November 14, 2016

Prof. Sarlito Bicara Tentang Terorisme..

Rabu 23 april 2008 jam 10 pagi bertempat di bangunan baru Audioturium Fakulti Sastera dan Sains Sosial University Malaya Kuala Lumpur, yang dihadiri sekitar 15 orang, Prof. Sarlito membentangkan makalahnya tentang terosirsme di Indonesia. Seperti pengakuan beliau kajian ini sebenarnya dilatarbelakangi dengan adanya bom bali di Indonesia yang mengorbankan banyak orang. Lalu beliau mewancarai banyak pihak yang terkait baik secara langsung maupun tidak dalam bom itu. Sementara tokoh kuncinya tidak diwawancarai langsung oleh beliau. Pak Sarlito hanya melihat video clip yang dirakam oleh seorang non muslim yang menyamar sebagai muslim dan masuk dan hidup bergabung dalam kelompok teroris itu (Amrozi cs).

Fokus kajiannya adalah mengkaji secara psikologi tentang para pelaku bom Bali. Siapa pelakunya, bagaimana ia berlaku, dimana, berapa, bila dan sebagainya. Dengan sempurna pak Sarlito mengemukakan biografi dan latar belakang 7 pelaku utama bom Bali tersebut. Diwaktu saya datang acara telah berjalan dan pembahasan waktu itu tentang terorisme di Indonesia sejak zaman dulu seperti DII, TII dan sebagainya. Singkatnya kekerasan yang dilakukan oleh umat Islam secara terorganisir selama ini menurut beliau adalah teroris!. Kejahatan non muslim di Ambon menurutnya, karena didahului oleh kejahatan umat Islam.

Hampir semua pelaku keganasan oleh umat Islam Indonesia dikemukakan oleh beliau. Beberapa kali pak Sarlito mengulangi tentang Sandra non muslim yang dipotong kepalanya oleh laskar jihad karena dihalangi polisi untuk bergerak yang akhirnya polisi membiarkan mereka bergerak. Beberapa pergaduhan kecil yang berakibat kepada penyerangan kaum china, gereja oleh umat dan mengatasnamakan umat Islam dan sebagainya. Pak Sarlito juga memuji Barat seperti USA, Australia, UK yang memberi bantuan dana kepada kepolisian RI dalam memfasilitasi proses penahanan para tersangka, yang semata-mata menurutnya hanya ingin melihat Indonesia aman.
Sesi tanya jawab
Dalam 6 penanya, lima di antaranya menyerang pak Sarlito. Tetapi jawapan yang selalu diulang-ulang oleh beliau adalah “ini diluar bidang kajian saya”. Bentuk2 tanggapan itu adalah;
1.      Disaat latar belakang kajian makalah yang bapak sampaikan dibatasi, saya sangat setuju, (yaitu tentang bom bali dan Amrozi cs saja). Tetapi disaat Bapak memberikan contoh2 yang umum dan melebar sehingga keluar dari fokus kajiannya, saya tidak setuju karena ianya masih memerlukan perdebatan yang panjang (seperti DII, TII, FPI dan sebagainya). Saya melihat bapak tidak adil dan tidak objektif dalam membuat kajian. Umpamanya bapak hanya melihat tindakan teroris yang dilakukan oleh umat Islam tetapi tidak membandingkannya dengan pembunuhan, pembantaian, pembakaran dan kezaliman yang dilakukan oleh non Islam terhadap umat Islam di Poso. Bapak juga tidak melihat terorisme yang dilakukan oleh pemerintah terhadap rakyat seperti peristiwa Tanjung Priok, Haur kuning dan sebagainya. Bapak hanya mengemukakan FPI mengirim laskar jihat ke Ambon, tetapi tidak menanyakan mengapa mereka mengirim laskar jihad ke sana.
2.      Seorang calon PhD menanyakan “Bapak hanya melihat kejahatan yang dilakukan umat Islam, tetapi tidak menghiraukan falsafah umat Islam yang bersaudara satu sama lain, sehingga mereka tidak tega melihat penindasan, pembunuhan dan kezaliman yang dialami oleh saudara mereka di Palestine, Irak, Afghanistan, Aceh di media massa setiap harinya.
3.      Seorang DR, dosen tamu bidang politik asia tenggara asal Indonesia juga mempertanyakan berbagai pernyataan pak Sarlito, katanya “Bapak tidak memberikan gambaran mengapa mereka melakukan itu, tidak juga menyinggung bagaimana ketidakadilan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap rakyat sehingga timbulnya berbagai perlawanan. Bapak sangat terkongkong dengan methode berfikir Barat yang memaksa bapak untuk membuat kesimpulan ini sehingga membuat Bapak juga tidak objektif.
4.      Seorang Profesor juga menanyakan “kalau dilihat dari rekaman pelaku bom bali, tidak tertutup kemungkinan yang melakukan itu adalah anak jalanan yang diberi uang dan sebagainya.
5.      DR Ali Berawi meminta Pak Sarlito membuka kembali lembaran tentang 7 ciri-ciri terorisme yang ada dalam makalah beliau, dan menanyakan apakah dengan tujuh syarat itu kita bisa mengatakan bahawa USA dan Israel adalah terorisme di Irag, Palestine, Afghanistan, Libanon dan sebagainya.
6.      Seorang Amerika yang hadir ketika itu mengatakan “sebenarnya di Amerika pun ada teroris” dengan mengemukakan beberapa contoh.
Mayoritas bantahan itu dijawab beliau dengan “ini tidak termasuk dalam bidang kajian saya” dalam hati saya mengatakan “kalau tidak termasuk dalam bidang kajiannya, mengapa itu dikemukakan dan mendominasi dalam penyampaian makalah beliau?”
Kesimpulan
Pertama saya sangat menyayangkan karena banyak dari pernyataan beliau yang sangat bias dan memojokkan Islam. Beliau adalah Profesor UI yang memiliki pengaruh dan seorang pemikir di kePolisian  Indonesia tentang kriminologi, karena beliau adalah dosen di sana dan Polisi selalu menjadikan beliau sebagai rujukan dalam berbagai kasus di Indonesia. Saat ini pak Sarlito adalah dosen tamu di University Malaya, dapat dibayangkan, kalau perkara ini berlanjutan, akan memberikan imeg baru terhadap Indonesia yang selama ini saja sudah mendapat beberapa gelaran yang tidak mengenakkan. Kedua, profesor bukanlah manusia super yang tahu sgala-galanya, sehingga tidak mengapa kalau kita mengingatkan disaat dia tersilap dan terlupa.
Di KBRI disaat diadakannya seminar sosialisasi KPK malam tadi, saya berjumpa dengan Prof Akhyar, dan pak Imran dan menanyakan siapakah sebenarnya pak Sarlito??? Ada kalimat yang mengejutkan saya tentang siapakah pak Sarlito sebenarnya (Tentang siapa Pak Sarlito akan saya cari lagi datanya yang akurat, terima kasih kalau kawan2 bisa membantu)
Terima Kasih, Kuala Lumpur 24 April 2008

Afriadi Sanusi