Tuesday, April 21, 2015

Laksamana Malahayati

Laksamana Malahayati
 Perempuan itu berteriak lantang dari atas kapal. Suaranya beradu nyaring dengan gelegar meriam. Tegas. Memberi komando kepada pasukan laki-laki & perempuan di palagan perang.
 Itulah secuplik kisah tentang Keumala Hayati. Panglima perang Kerajaan Atjeh. Dia adalah Muslimah pertama di nusantara dan bahkan dunia yang menjadi laksamana di Zaman Pelayaran Modern.
 Saat sebagian besar rakyat negeri ini belum memikirkan emansipasi, dia sudah mendobrak batas-batas gender yang baru dibincangkan kemudian.
 Enam abad silam, perempuan yang juga disebut dengan nama Malahayati ini memimpin seribu lebih perempuan.
 Mereka para janda prajurit Kerajaan Atjeh yang gugur dalam pertempuran melawan Portugis di Teluk Haru atau Selat Malaka.
 Di dalam tubuh Malahayati memang mengalir darah Ksatria.
 Bapaknya adalah Laksamana Mahmud Syah, panglima Kerajaan Aceh. Kakeknya, Muhammad
 Said Syah, juga seorang laksamana terkemuka. Kakek buyutnya, Sultan Salahuddin Syah, memimpin Atjeh pada tahun 1530-1539.
 Sultan Salahuddin merupakan putra Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah. Pendiri Kerajaan Atjeh Darussalam.
 Malahayati mengenyam pendidikan militer selepas dari Pesantren. Dia masuk jurusan angkatan laut akademi militer Kerajaan Atjeh. Ma'had Baitul Makdis. Akademi militer ke Enamaan Kerajaan Atjeh yang dibangun atas dukungan Sultan Selim II, Penguasa Turki Utsmaniyah.
 Di akademi militer itu, Malahayati tumbuh sebagai sosok brilian. Di situ puladia bertemu dengan kakak angkatan yang kemudian menjadi suaminya.
 Lulus dari akademi, Malahayati diangkat menjadi Komandan Protokol Istana Darud-Dunia Kerajaan Atjeh Darussalam. Sang suami menjadi laksamana. Namun sayang, suaminya gugur di palagan Selat Malaka ketika melawan Portugis.
 Setelah suaminya gugur, Malahayati memohon kepada Sultan Al-Mukammil, Raja Atjeh yang berkuasa dari 1596-1604, untuk membentuk armada perang.
 Prajuritnya adalah para janda pejuang Atjeh yang gugur dalam pertempuran di Selat Malaka itu.
 Gayung bersambut. Saat itu Kerajaan Aceh memang tengah meningkatkan keamanan karena gangguan Portugis. Usul membentuk armada dikabulkan, Malahayati diangkat jadi Panglima Armada Inong Balee atau Armada Perempuan Janda.
 Pasukan itu bermarkas di Teluk Lamreh Kraung Raya. Benteng Kuto Inong Balee dengan tinggi sekitar tiga meter dibangun. Lengkap dengan meriam. Sisa-sisa benteng itu kini masih bisa dilihat di Atjeh.
 Tak hanya menyusun pertahanan di darat. Pasukan Inong Balee dilengkapi seratus lebih kapal perang. Pasukan yang semula hanya seribu, lama-lama bertambah hingga mencapai dua ribu orang.
 Armada asing yang melintas di Selat Malaka pun menjadi gentar.
 Pada 21 Juni 1599, pasukan ekspedisi dari Belanda yang baru selesai berperang dengan Kesultanan Banten tiba di Atjeh. Rombongan yang dipimpin Cornelis dan Frederick de Houtman itu disambut baik. Namun armada asing itu malah menyerbu pelabuhan Atjeh.
 Kerajaan Atjeh melawan. Laskar Inong Balee pimpinan Malahayati jadi tembok terdepan. Pasukan janda itu sangatlah tangguh. Armada Belanda dilibas.
 Bahkan pada 11 September, de Houtman tewas di tangan Malahayati. Frederick de Houtman ditawan selama dua tahun. Tak kapok, Belanda mengirim pasukan pada 21 November 1600. Kali ini di bawah komando Paulus van Caerden. Mereka menjarah dan menenggelamkan kapal-kapal yang penuh rempah-rempah di pantai Atjeh.
 Juni tahun berikutnya, Malahayati berhasil menangkap Laksamana Belanda, Jacob van Neck, yang tengah berlayar di pantai Aceh. Setelah berbagai insiden, Belanda mengirim surat diplomatik dan memohon maaf kepada Kesultanan Atjrh melalui utusan Maurits van Oranjesent.
 Tak hanya sebagai laksamana, Malahayati ternyata juga merupakan sosok negosiator ulung. Pada Agustus 1601, Malahayati memimpin Aceh untuk berunding dengan dua utusan Maurits van Oranjesent, Laksamana Laurens Bicker dan Gerard de Roy. Mereka sepakat melakukan gencatan senjata. Belanda juga harus membayar 50 ribu gulden sebagai kompensasi penyerbuan yang dilakukan van Caerden.
 Sepak terjang Malahayati sampai juga ke telinga Ratu Elizabeth, penguasa Inggris. Sehingga negeri raksasa itu memilih cara damai saat hendak melintas Selat Malaka. Pada Juni 1602.
 Ratu Elizabeth memilih mengutus James Lancaster untuk mengirim surat kepada Sultan Atjeh untuk membuka jalur pelayaran menuju Jawa.
 Malahayati disebut masih memimpin pasukan Atjeh menghadapi armada Portugis di bawah Alfonso de Castro yang menyerbu Kreung Raya Aceh pada Juni 1606.
 Sejumloah sumber sejarah menyebut Malahayati gugur dalam pertempuran melawan Portugis itu. Dia kemudian dimakamkan di lereng Bukit Kota Dalam, sebuah desa nelayan yang berjarak 34 kilometer dari Banda Aceh.
 Malahayati sungguh melegenda. Namanya saat ini dipakai untuk jalan, rumah sakit, universitas di Pulau Sumatera, hingga kapal perang TNI Angakatan Laut.
 Sumber ;
www.en.wikipedia.org/wiki/Keumalahayati